"ah capek, setiap negara beraninya ngomong doang...", ucapan itu secara gamblang keluar dari para pemirsa TV yang sering nonton kisah "David and Goliath"... yah apalagi kalau bukan Palestine dan Israel. Akhirnya tersentak dan sesak juga nafas ini kalau tak bergeming dengan kondisi yang ada.
Sudah gerah mendengar kutukan-kutukan yang dilontarkan oleh negara-negara di dunia kepada Israel, seolah hanya menjalankan tugas dan mencari "image" positif dari masyarakat dan peredam amarah agar tidak terjadi demonstrasi, Perdana Menteri atau Presiden mengucapkan "kutukan" yang disiarkan televisi di dunia. Selanjutnya???? (ngopi-ngopi lagi yuk kita...sambil nonton Liga Arab antara Kesebelasan Palestina melawan Kesatuan Angkatan Bersenjata Lengkap Tentara Israel).
Menonton kutukan-kutukan jadi mengingatkan saya dengan kutukan yang dilontarkan "Amak" (Baca : Ibu) Malin Kundang. Ketika si Malin durhaka maka Ibu yang sanantiasa mendoakan setiap hari malah mengeluarkan kata-kata kutukan yang mengakibatkan si Malin menjadi "batu". (buktinya ada patung Malin di Pantai Padang, Sumatera barat).
Ingat juga kisah Loro Jonggrang ketika kekesalan Prabu Bandung Bondowoso tidak mampu memenuhi permintaan 1000 candi dari Putri Rara Jongrang, akhirnya mengutuk si putri cantik menjadi candi ke 1000 untuk melengkapi kelengkapan candi Prambanan.
Dari dua kisah "ajaib" ala Indonesia seakan menggiring "tawa kecil" saya ketika melihat Presiden-Presiden "negara hebat" mengeluarkan "kutukan", yang terjadi malah para relawan ditembaki dan diserbu seakan musuh perang, ada juga jurnalis meninggal (mirisnya negara Italia, bangsa Eropa yang dikatakan negara hebat). Lalu, apakah kita butuh Amak Malin Kundang dan Prabu Bandung Bondowoso untuk mengutuk Israel jadi "batu"???
Tenang... saya tidak mendongeng, tapi itulah kondisi saat ini. Coba kita lihat dalam kehidupan sehari-hari dimana seorang ibu marah kepada anaknya (hingga mengeluarkan kata-kata "tidak pantas"), hasilnya adalah si anak malah tambah menjadi-jadi dengan kelakuannya. Terkadang si anak balik menantang orang tua dan mengacuhkan mereka (persis Israel kan???).
Tulisan ini mengajak kita untuk mengartikan kata kedua yaitu Ketok. Simpel, sederhana dengan arti "pukul", tapi dampaknya terasa luar biasa. Coba ingat saat Ketua DPR RI Bapak Marzuki Alie langsung "mengetok" palu di sidang paripurna penentuan Hak Angket Bank Century, kira-kira seminggu hampir seluruh TV Indonesia menyiarkan permasalahan itu, untung Indonesia banyak masalah jadi kasus itu hilang ditelan waktu. Ada lagi istilah "ketok magic", dengan diketok saja maka mobil anda akan kembali mulus.
Ketok ternyata memiliki makna dan pengaruh yang luar biasa. Jika orang tua bilang "tak kutuk kamu jadi.....", maka anak-anak langsung lari ketakutan, tapi karena dampaknya tidak ada maka mereka malah tambah menjadi-jadi. Lalu ketika orang tua menggunakan kata "ketok" pada anak, yang tadinya si anak nakal, ketika diketok kepalanya sama orang tua (pelan-pelan ya, kesian nanti sakit), maka dampaknya yang tadinya nakal, tiba-tiba diam seribu bahasa dengan linangan air mata. "mama aku gak nakal lagi..." tangis si anak.
Itulah kisah "kutuk" vs "ketok", harapannya sesekali coba kita gunakan Bangsa Muslim mengetok "kepala" Israel, dengan mengirim bala bantuan satu juta relawan. Atau Negara-negara Muslim "mengetok" seluruh negara yang membela Israel dengan mengembargo minyak ke negara tersebut. Dengan catatan kekompakan mesti terjaga. Setiap bangsa yang berhasil adalah bangsa yang mampu bersatu dan menanggalkan segala perbedaan guna "mempertahankan harkat dan martabat" diri.
Semoga Allah memberikan "setitik cahaya di Palestina" dan memberikan "setitik nurani bagi para pemimpin bangsa di dunia" untuk tidak lagi sekedar "mengutuk" melainkan "mengetok" Israel.
"Fainnamaal ushri ushro, innamaalushri usro... (dibalik kesulitan akan ada kemudahan) Insya Allah... semoga kita terbebas dari bangsa "yang telah dijamin masuk neraka". Wallahualam bishowab.
"Tulisan didedikasikan bagi Pembuat Kebijakan dan Pemilik Hati Nurani"
by Kemas MH Thamrin, June 3rd 2010. 06.30pm
with "Love and Smile for The Better Life"
Kamis, 03 Juni 2010
Kamis, 22 April 2010
Kekuatan...
Berusaha menemukan kekuatan adalah kodratnya manusia. Setiap hari tentunya hal yang menjadi topik utama dalam otak manusia adalah bagaimana hari ini menjadi lebih kuat dari kemarin. Lagi-lagi topik kuat disini diartikan dalam bahasa yang luas.... Intinya Mau gak mau, kita mesti jadi orang yang lebih baik dari hari kemarin... Nah, kalo bahasa ini lebih enak didenger, soalnya dalilnya jelas... Al-Quran.
Teman, Kuat bukan berarti mampu mengalahkan yang lemah. Ini kesalahan yang mendasar yang harus kita perbaiki. Kuat adalah mampu mengalahkan kelemahan. Manusia dikatakan kuat jika dia mampu mengatasi kelemahan-kelemahan yang ada. Orang-orang tidak bisa mengangkat batu, namun ternyata kita mampu mengatasi itu, maka jadilah kita orang kuat, seperti itu julukan kita.
Atau dalam kasus yang jauh lebih kompleks, Jika pemimpin mampu mengatasi permasalahan negara dan bangsanya, maka dialah orang yang kuat.
Saudara, jangan pernah berpersepsi bahwa kekuatan diciptakan untuk kemusnahan. Justru kekuatan diciptakan untuk menjaga kesinambungan hidup. Superman diciptakan oleh pembuatnya untuk "mengatasi kejahata", bukan memusnahkan barang-barang yang ada disekitarnya. Dan saat ini dipertontonkan, maka opini yang dimiliki oleh anak-anak sejak dini adalah kuat berarti mampu merusak.
Tanpa sadar, kita selaku penerus seharusnya mulai membuka mata bahwa kesalahan-kesalahan seperti ini dapat berdampak pada perubahan visi dan misi dari generasi penerus. Dan tanpa kita sadari bahwa Kekuatan dengan analogi yang negatif telah mendarah daging dalam otak kita.
Mengapa harus ada "kerusakan atas nama People Power" baru adanya reformasi, atau mengapa harus ada kata damai setelah terjadi korban dan kerusakan. Padahal jika dirunut lebih lanjut, permasalahan yang ada didalangi oleh orang-orang yang mengaku dirinya "kuat".
Kalo sudah seperti ini trus siapa yang "kuat" siapa yang "lemah".... gak ada... semua lemah karena merasa kekuatan yang mereka punya tanpa batas.
Saudara, manusia diciptakan dengan berbagai kelebihan dan keunggulan. Tapi patut kita yakini bahwa kesemua itu memiliki batasan yang jelas. Yakinlah disetiap ciptaan tentu ada kelemahan, karena kesempurnaan hanya milik Sang Pencipta.
Inti dari tulisan ini adalah Mari kita kembali ke fitrah kita, dimana Kekuatan yang diberikan oleh Allah SWT adalah cara untuk mengatasi berbagai kelemahan dan menemukan "jalan" yang benar, sehingga tujuan hidup yang semula kita yakini benar akan tercapai.
Beranilah untuk berkata "Berjuang dengan Kekuatan dimulai dengan Tersenyum pada Orang yang lebih lemah dari pada kita, dan Bekerja dengan cerdas pada Orang yang jauh lebih kuat dari kita...." itu kunci keberhasilan kita mengatasi segala kekurangan....
Teman, Sahabat, dan Saudara... Jika anak-anak ingin jadi Polisi, Dokter dan Presiden... Maka kita akan menyebutkan "Menjadi Yang Terbaik" adalah Cita-Cita Saya...
Salam Hangat, Salam Senyum...
Kemas MH Thamrin with Smile ;)
Teman, Kuat bukan berarti mampu mengalahkan yang lemah. Ini kesalahan yang mendasar yang harus kita perbaiki. Kuat adalah mampu mengalahkan kelemahan. Manusia dikatakan kuat jika dia mampu mengatasi kelemahan-kelemahan yang ada. Orang-orang tidak bisa mengangkat batu, namun ternyata kita mampu mengatasi itu, maka jadilah kita orang kuat, seperti itu julukan kita.
Atau dalam kasus yang jauh lebih kompleks, Jika pemimpin mampu mengatasi permasalahan negara dan bangsanya, maka dialah orang yang kuat.
Saudara, jangan pernah berpersepsi bahwa kekuatan diciptakan untuk kemusnahan. Justru kekuatan diciptakan untuk menjaga kesinambungan hidup. Superman diciptakan oleh pembuatnya untuk "mengatasi kejahata", bukan memusnahkan barang-barang yang ada disekitarnya. Dan saat ini dipertontonkan, maka opini yang dimiliki oleh anak-anak sejak dini adalah kuat berarti mampu merusak.
Tanpa sadar, kita selaku penerus seharusnya mulai membuka mata bahwa kesalahan-kesalahan seperti ini dapat berdampak pada perubahan visi dan misi dari generasi penerus. Dan tanpa kita sadari bahwa Kekuatan dengan analogi yang negatif telah mendarah daging dalam otak kita.
Mengapa harus ada "kerusakan atas nama People Power" baru adanya reformasi, atau mengapa harus ada kata damai setelah terjadi korban dan kerusakan. Padahal jika dirunut lebih lanjut, permasalahan yang ada didalangi oleh orang-orang yang mengaku dirinya "kuat".
Kalo sudah seperti ini trus siapa yang "kuat" siapa yang "lemah".... gak ada... semua lemah karena merasa kekuatan yang mereka punya tanpa batas.
Saudara, manusia diciptakan dengan berbagai kelebihan dan keunggulan. Tapi patut kita yakini bahwa kesemua itu memiliki batasan yang jelas. Yakinlah disetiap ciptaan tentu ada kelemahan, karena kesempurnaan hanya milik Sang Pencipta.
Inti dari tulisan ini adalah Mari kita kembali ke fitrah kita, dimana Kekuatan yang diberikan oleh Allah SWT adalah cara untuk mengatasi berbagai kelemahan dan menemukan "jalan" yang benar, sehingga tujuan hidup yang semula kita yakini benar akan tercapai.
Beranilah untuk berkata "Berjuang dengan Kekuatan dimulai dengan Tersenyum pada Orang yang lebih lemah dari pada kita, dan Bekerja dengan cerdas pada Orang yang jauh lebih kuat dari kita...." itu kunci keberhasilan kita mengatasi segala kekurangan....
Teman, Sahabat, dan Saudara... Jika anak-anak ingin jadi Polisi, Dokter dan Presiden... Maka kita akan menyebutkan "Menjadi Yang Terbaik" adalah Cita-Cita Saya...
Salam Hangat, Salam Senyum...
Kemas MH Thamrin with Smile ;)
Selasa, 19 Januari 2010
Dan kupanggil dia Jee....
Aku dipersimpangan? mungkin tapi mungkin aku hanya dipersinggahan...dan ketika setiap titik yang kulewati bukanlah semua hal yang baik.. namun itu akan tetap menjadi kenangan....apakah memegang mawar akan selalu tertusuk durinya?ataukah bila kita menghindari jurang dipersimpangan, maka kita akan bertemu serpihan kaca dijalanan...ah, peduli apa dengan tangisan anjing dimalam hari... peduli apa dengan gerhana matahari cincin yang muncul 1000 tahun... aku tidak akan berkurang sedikitpun karena melewatkannyasekarang, kucoba memasang senar dalam dawai biola yang lusuh...dan mulai kubersihkan debu-debu diatas piano electric itu....karena aku ingin memainkannya... dan aku sekarang bisa tersenyumKupanggil dia Jee... yang menari diatas serpihan kaca, dan merengkuh biola....aku datang dengan cawan, tapi bukan berisi air mata...karena yang kubawa adalah air dari lelehan salju di Himalayakarena ku tahu, itu akan meredam dahaga dihampar pasir panjang....Aku telah banyak berlari, walau ternyata mereka melompat...aku telah berulang kali jatuh dan yang lain menertawakan...aku memang seorang bocah ingusan yang mencoba ingin tahu sesuatuDan izinkan kumemanggil dia dengan Jee... tidak karena orang lain, tidak pula karena kau ingin dipanggilbiarlah... jangan halangi aku... karena aku akan terus berlari... berlari sekencang "kuda putih di tanah gersang..."
by Mario Khemas Van Thamic
by Mario Khemas Van Thamic
Ceriakan Harimu.....
Tuesday, May 19, 2009 at 5:04pm Edit Note Delete
Tentu jika kita selalu merasa sepi, merasa diri tidak begitu berguna atau bahkan hampa dalam hidup. Ketahuilah bahwa kita diciptakan untuk menghadapi sebuah masalah, masalah demi masalah akan selalu datang, dan orang yang hidup adalah orang yang mempunyai masalah... Jangan pernah merasa bahwa kita kalah, atau berkata "yah, apa boleh buat, sudah nasib... jangan!!!" siapa yang tahu nasib kita, Obama tidak pernah merasa kalau dia adalah calon pemimpin masa depan di saat dia bermain di Menteng Dalam... atau SBY tidak pernah merasa saat dia bermain di sawah kalau dia pemimpin sebuah negara kepulauan terbesar di dunia... hei, kita tidak akan pernah merasa kita akan jadi apa nanti, tapi tetaplah kita berharap dan berkeinginan jika suatu saat kita akan ikut mengubah dunia...Masa depan berada di tangan kita, "Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, melainkan mereka sendiri yang mengubahnya...", "dan janganlah kamu berputus asa, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar..."...Teruslah Berfikir dan Berniat Menjadi Orang Yang Akan Mengubah Dunia Ke Arah Yang Lebih Baik...Karena Ditangan Orang-Orang Optimislah, bangsa ini maju, makmur, dan bahagia...To be The Great People with The Right Processes, Amin....
Tentu jika kita selalu merasa sepi, merasa diri tidak begitu berguna atau bahkan hampa dalam hidup. Ketahuilah bahwa kita diciptakan untuk menghadapi sebuah masalah, masalah demi masalah akan selalu datang, dan orang yang hidup adalah orang yang mempunyai masalah... Jangan pernah merasa bahwa kita kalah, atau berkata "yah, apa boleh buat, sudah nasib... jangan!!!" siapa yang tahu nasib kita, Obama tidak pernah merasa kalau dia adalah calon pemimpin masa depan di saat dia bermain di Menteng Dalam... atau SBY tidak pernah merasa saat dia bermain di sawah kalau dia pemimpin sebuah negara kepulauan terbesar di dunia... hei, kita tidak akan pernah merasa kita akan jadi apa nanti, tapi tetaplah kita berharap dan berkeinginan jika suatu saat kita akan ikut mengubah dunia...Masa depan berada di tangan kita, "Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, melainkan mereka sendiri yang mengubahnya...", "dan janganlah kamu berputus asa, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar..."...Teruslah Berfikir dan Berniat Menjadi Orang Yang Akan Mengubah Dunia Ke Arah Yang Lebih Baik...Karena Ditangan Orang-Orang Optimislah, bangsa ini maju, makmur, dan bahagia...To be The Great People with The Right Processes, Amin....
Langganan:
Postingan (Atom)