Selasa, 19 Januari 2010

Dan kupanggil dia Jee....

Aku dipersimpangan? mungkin tapi mungkin aku hanya dipersinggahan...dan ketika setiap titik yang kulewati bukanlah semua hal yang baik.. namun itu akan tetap menjadi kenangan....apakah memegang mawar akan selalu tertusuk durinya?ataukah bila kita menghindari jurang dipersimpangan, maka kita akan bertemu serpihan kaca dijalanan...ah, peduli apa dengan tangisan anjing dimalam hari... peduli apa dengan gerhana matahari cincin yang muncul 1000 tahun... aku tidak akan berkurang sedikitpun karena melewatkannyasekarang, kucoba memasang senar dalam dawai biola yang lusuh...dan mulai kubersihkan debu-debu diatas piano electric itu....karena aku ingin memainkannya... dan aku sekarang bisa tersenyumKupanggil dia Jee... yang menari diatas serpihan kaca, dan merengkuh biola....aku datang dengan cawan, tapi bukan berisi air mata...karena yang kubawa adalah air dari lelehan salju di Himalayakarena ku tahu, itu akan meredam dahaga dihampar pasir panjang....Aku telah banyak berlari, walau ternyata mereka melompat...aku telah berulang kali jatuh dan yang lain menertawakan...aku memang seorang bocah ingusan yang mencoba ingin tahu sesuatuDan izinkan kumemanggil dia dengan Jee... tidak karena orang lain, tidak pula karena kau ingin dipanggilbiarlah... jangan halangi aku... karena aku akan terus berlari... berlari sekencang "kuda putih di tanah gersang..."

by Mario Khemas Van Thamic

Tidak ada komentar:

Posting Komentar